Menu

Mode Gelap

Lensa · 5 Okt 2021 15:34 WIB ·

Mengandung Bawang, Kisah Arie Hanggara dan Kekerasan yang Menghantui Anak-Anak


					Arie Hanggara. tirto.id/Deadnauval Perbesar

Arie Hanggara. tirto.id/Deadnauval

“Arie namanya. Ia mati dihukum ayahnya. Mungkin anak kita tidak. Tapi benarkah kita tidak kejam?”

Tigernews – Rangkaian kalimat itu ditulis Tempo edisi Desember 1984 untuk artikel utama tentang seorang anak kecil yang dibunuh orang tuanya.

Arie Hanggara, bocah itu, terlahir sebagai anak kedua dari pasangan Machtino Eddiwan dan Dahlia Nasution. Saat rumah tangga orang tuanya berantakan, Arie bersama dua orang saudaranya dibawa sang ayah untuk hidup bersama perempuan lain bernama Santi. Perempuan ini banyak dikabarkan sebagai ibu tiri Arie dan saudara-saudaranya.

Namun dalam laporan Tempo edisi 13 April 1985, ayahnya dan Santi belum resmi sebagai pasangan suami istri meski telah tinggal bersama. Masyarakat yang menganggap Santi sebagai ibu tirinya kelak akan menjadikan status “ibu tiri” sebagai mimpi buruk bagi anak-anak.

Arie bersekolah di Perguruan Cikini, Jakarta Pusat. Ayahnya menganggur selepas usahanya bangkrut dan Santi bekerja kantoran. Menurut Khadidjah, guru Arie, bocah kelas 1 sekolah dasar itu seorang periang dan mudah bergaul. Sementara Santi dan ayahnya menganggap Arie sebagai anak yang nakal.

 

Konon, beberapa kali mereka mendapati Arie mencuri uang. Karena kesal dengan perbuatan Arie, Ayahnya dan Santi kerap menyiksanya. Arie dipukul, ditendang, ditampar, disuruh jongkok dan berdiri secara terus-menerus sampai kelelahan, kepalanya dibenturkan ke tembok, dan dikurung di dalam kamar mandi. Meski Arie sering mendapat perlakuan seperti itu, menurut Khadidjah, Arie tidak memperlihatkan dirinya mengalami tekanan mental.

Jika luka di tubuhnya ketahuan oleh guru, ia menjawabnya karena jatuh. Tanggal 8 November 1984, tepat hari ini 35 tahun lalu, adalah hari terakhir dalam hidup Arie.

Setelah disiksa sedari siang, pada malam hari ia disuruh menghadap tembok, kepalanya dibenturkan ke tembok, dan tidak diperbolehkan makan serta minum. Karena sudah tidak mampu lagi menanggung derita, Arie akhirnya roboh.

Bocah berusia tujuh tahun itu tak berdaya. Saat ayahnya terbangun dan hendak ke kamar mandi, ia mendapati Arie telah terkapar dan membawanya ke rumah sakit. Di perjalanan, Arie meninggal dunia. Jenazah Arie dipenuhi 40 luka yang menyebar di hampir sekujur tubuhnya: di punggung, pinggang, pantat, dada, tengkuk, dan yang terbanyak di kedua lengan. Arie Hanggara dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Penulis